Postingan

Hei, Aku Rindu.

Aku terlalu egois untuk mengatakan aku siap tanpa mu. Aku terlalu egois untuk mengatakan aku ikhlas tanpa mu. Aku terlalu egois untuk melangkah sendiri. Membiarkan  mu. Aku egois.
Sangat Egois.
Maafkan.
Tetapi,
Apakah kamu berpikiran yang sama?
Apa jangan-jangan, kamu terbiasa tanpa ku?
Bodoh. Mau  kamu tidak berpikiran  yang sama Aku tak  peduli
Aku  si egois Egois atas perasaan ku. Egois atas perasaan mu.



Hei, Aku rindu


Si  Egois.

Untuk mu, papa

Untuk mu, papa.
Waktu kecil,  Papa adalah sosok yang keras Papa adalah sosok yang tegas
Tak segan kau memarahi ku. Tak segan, kumpulan lidi menghantam kaki ku.
Bahkan aku sempat berkata “Aku benci papa!"
Waktu berlalu dengan cepat.
Sekarang aku sudah mengerti, pa. Itu cara mu mengajari ku menjadi anak yang kuat. Mungkin cara mu berbeda dengan yang lain. Tapi aku mengerti, pa.
Tak ada lagi rasa benci yang ku simpan. Yang ada hanyalah rindu.
ketika ada waktu bersama, Aku selalu memperhatikan wajah mu dalam waktu lama. Sekarang wajahmu penuh dengan kerutan Sekarang rambut mu mulai memutih. Sekarang tatapan mata mu mulai sayu.
Rasanya ingin berkata,  "Aku tak membenci mu, aku menyayangi mu, pa"
Aku disini selalu mendoakan mu dalam rindu. Aku disini selalu menyayangi mu dalam rindu.
Aku selalu senang mengumpulkan rasa rindu ini.
Rindu yang akan ku tumpahkan dalam pelukan ketika kita bersua kembali.
Sehat terus, pa.

Broken Home

Bahagia dalam kelimpahan itu  biasa.
Bahagia dalam keterbatasan itu luar biasa.
Bahagia dalam keluarga yang harmonis itu  biasa. Bahagia dalam keluarga yang tidak harmonis itu hal luar biasa.
Mudah? Tidak.
Memahami keputusan orangtua berpisah, membutuhkan proses yang panjang.
Sampai akhirnya kita bisa menerima semuanya dan mengerti, keadaan seperti ini tidak seharusnya dilampiaskan dengan hal negatif.
Ya, anak broken home selalu diidentikan dengan anak yang nakal.

Bermasalah. Ga bisa diatur. Masa depannya suram.
Walaupun dengan status “broken home” seakan-akan semua yang lo lakuin akan diwajarkan.
“Anaknya ibu A tawuran” “Wajar, broken home” “Anaknya ibu B tinggal kelas” “Wajar, ga diurus, orangtunya aja cerai”
Semua diwajarkan.
Tapi, Jangan jadikan orangtua, sebagai tameng ketika kalian gagal. Jangan jadikan orangtua, sebagai tameng ketika masa depan kalian hancur.
Berpikir positif.
Lagian enak jadi anak broken home : 1. Dijauhkan dari sticker  Happy Family. Yang gue yakin, yang pasa…

Si Bodoh

Sebodoh itu si Bodoh?

Disudut ruangan, termenung.  Gelisah dalam salah.
Diam dan amarah mu menyayat hati dalam rindu.
Stop. Jangan bicarakan rindu.
“Pantaskah kau mengucap rindu? Saat perbuatan mu jauh dari arti rindu?” Ucapnya kepada si Bodoh.
Disudut ruangan, menghangatkan badan. Melawan dinginnya udara yang bercampur rindu.
“Diam kamu bodoh! Kau mengganggu waktu ku!” Ucapnya.
“Bukan kah acuh mu itu mengganggu waktu ku juga? Waktu yang ku siapkan untuk mendengar setiap cerita mu?” Ucap si Bodoh.
“Aku ingin menjadi pintar! Tapi bisakah aku pintar, selama diriku bernama Bodoh?” Tanya si Bodoh.
Ah apalah kehebatan si Bodoh ini. Aku tak bisa apa-apa. Selain terus belajar. Belajar. Belajar. Menjadi pintar.
Tapi, Ahh aku bukan murid yang baik untuk belajar. Aku murid bodoh.
Mungkin, Ini masalah waktu. Setiap waktu yang berjalan. Akan mengubah setiap dimensi.
Mungkin aku bodoh, karena nama ku. Tapi aku tak ingin bodoh selamanya. Aku ingin menjadi pintar. Aku yakin bisa. Tapi..... Sepintar …

Perahu Kecil

Tak terasa 2 tahun perahu kecil ini berlayar lepas. Mengarungi lautan yang luas. Berjibaku dengan ombak yang buas.
Melewati teriknya matahari di siang hari. Dinginnya angin malam.
Bahkan. Hampir karam.
Jangan menyerah.  Aku sudah melihat dermaga kita.. Dermaga yang menjadi tujuan kapal ini.
Perahu kecil yang terbuat atas dasar rasa cinta dan kepercayaan. Terimakasih sudah mau berlayar bersama perahu kecil ini. Tetaplah di dalam perahu ini. Tetaplah percayakan perahu ini kepada ku. Sampai perahu kecil ini berlabuh di ujung dermaga.
Selamat 2 tahun sudah berlayar bersama. Untuk mu, Kariel Ayyasy Zahra

Sampai Ujung Itu Tiba

Saat kaki terus melangkah, muncul banyak pertanyaan. "Sampai kapan?"
"Ujungnya kemana?"
"Sudah tau beda kenapa dijalanin?"
Buat ku tak ada namanya kebetulan. Setiap kejadian yang kita lewati sudah ada dalam rencana-Nya.
Aku hanya berjalan dalam alur yang ada. 
Mungkin ini terkesan sebuah pembenaran.
Ini bukan pembenaran, Sampai saat nanti aku tau ujung dari perjalanan ini.
Yang aku yakin, ujungnya baik. Baik belum tentu tak sakit. Sakit belum tentu tak Baik.
Dan sampai ujung itu tiba Ijinkan aku terus mencintaimu. Ijinkan aku terus menyayangimu
Yang terpenting Ijinkan aku menjagamu untuk semakin dengan Tuhanmu.
Karena Dia lah yang mempertemukan kita. Aku mencintai Pencipta-ku, dan juga ciptaan-Nya. Kamu.
Sampai ujung itu tiba.

Sepasang Kaki

Gambar
Setiap manusia diberikan sepasang kaki oleh Sang Pencipta.
Sepasang kaki yang siap berpijak kemana pun arah dan tujuan melangkah. Sepasang kaki yang siap menopang tubuh ini setiap waktunya.
Kadang dia lelah untuk melangkah. Kadang dia lelah untuk menopang tubuh ini lagi. Kadang dia merasa terlalu lelah untuk melangkah sendirian,
Dia butuh sepasang kaki lagi untuk menemani setiap langkah yang dilakukan.
Aku mencari dan menemukannya.
Sepasang kaki yang selalu menemani setiap perjuangan saya.
Sepasang kaki yang siap membantu menopang kaki saya ketika kelelahan.
Ketika sepasang kaki lainnya mencemoohnya, "Buat apa sih selalu ada buat sepasang kaki lain?"
Sepasang kaki itu menjawab, "Itulah tujuan saya diciptakan. Saya ada untuk menemani setiap langkah perjuangannya dan menemani dalam lelahnya."
Ya sepasang kaki itu selalu menemani sepasang kaki saya. 
Selalu.
Tanpa lelah.